ABANG TIMAH UNTUK BU DISA

Pengelolaan sumber daya alam timah di Bangka Belitung menimbulkan banyak permasalahan kerusakan lingkungan. Luas lahan kritis akibat pertambangan di Bangka Belitung sebesar 200.000-an hektar, reklamasi baru bisa dilakukan seluas 2.200 hektar.  Luasnya lahan kritis menjadi ancaman terbesar terjadinya kekurangan pangan.  Produksi beras di Kabupaten Bangka hanya dapat mencukupi sekitar 16,3 ?ri total kebutuhan, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan, terutama produksi beras. Untuk memenuhi kebutuhan beras, perlu dilakukan inovasi dalam upaya meningkatkan produksi. Selain mengoptimalkan lahan sawah dan ladang yang sudah ada, juga memanfaatkan lahan kritis bekas kegiatan tambang timah agar memiliki nilai produktif dan ekonomis.

Inovasi “Abang Timah untuk Bu Disa” berhasil memanfaatkan lahan kritis bekas tambang timah menjadi lahan produktif  dengan menggunakan pendekatan kongkrit dan holistik-sistemik. Inovasi ini mulai diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka dan Kelompok Tani Mekar di Kelurahan Sinar Jaya Jelutung Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, dilakukan dengan memanfaatkan lahan bekas penambangan timah dan luas lahan yang dikelola hingga saat ini mencapai 8 Hektar. Penerapan teknologi budidaya padi secara tepat guna disertai dengan mengintegrasikan sawah-sapi, menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang benar, dan melibatkan semua pemangku kepentingan adalah bagian dari faktor keberhasilan. Dari aspek efektifitas inovasi ini mampu menghasilkan padi secara signifikan dengan rata-rata produktivitas 4,8 ton/hektar, dengan Revenue per Cost rata-rata sebesar 1,9.

Sebelum di lakukannya inovasi di lahan bekas penambangan terdapat lubang yang menganga, kontur yang tidak beraturan, lahan marginal miskin unsur hara dan tidak produktif untuk budidaya pertanian sehingga menjadi ancaman bagi ketahanan pangan. Dampak yang dihasilkan dari perubahan ini sangat signifikan yaitu aktifitas pertanian yang semakin meningkat dalam pemanfaatan lahan kritis bekas penambangan dan dapat mendukung 10 (sepuluh) pencapaian agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).  

Untuk menjamin keberlanjutan dari kegiatan ini, didukung oleh adanya komitmen yang tinggi dari Pemerintah Daerah berupa regulasi, kerjasama dengan akademisi, lembaga penelitian dan pihak swasta serta pendampingan melalui anggaran APBD II, APBD I maupun APBN.

Inovasi mudah diterapkan dikarenakan menggunakan teknologi yang sederhana sehingga mudah di replikasi dan telah menginspirasi petani di Kabupaten Bangka untuk mengembangkan tanaman pangan lainnya, sayur-sayuran, dan buah-buahan seluas lebih kurang 575,3  Hektar. Keberhasilan ini juga telah menginspirasi daerah lain yang memiliki karakter yang sama dengan Kabupaten Bangka, dan menjadi laboratorium riset dan best practice bagi perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri.