MOLIN SAHABAT (Mobil Perlindungan Satu Hati untuk Semua Kerabat)

Kekerasan pada perempuan dan anak merupakan isu strategis pembangunan Indonesia, bahkan menjadi sorotan internasional. Data dari Sistem Informasi On-line Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) menunjukkan bahwa terdapat 14.716 kasus kekerasan yang dilaporkan selama tahun 2018 sampai dengan awal Desember 2018. Sebanyak 12.032 kasus merupakan korban perempuan dan 3.831 kasus merupakan korban laki-laki. Jumlah Korban pada rentang usia 13-17 tahun sebesar (29,4 %), usia 25-44 tahun (27,6%), dan usia 6-12 tahun (17,7%). Apabila diprediksi kasus-kasus yang terjadi jauh lebih banyak karena banyak yang tidak terlaporkan.Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah masih perlu terus berupaya keras untuk melakukan programprogram strategis terkait perlindungan terhadap perempuan dan anak. Sebagai bentuk komitmen Pemerintah untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak RI memberikan bantuan berupa mobil perlindungan yang disingkat Molin kepada dinas pengampu urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di seluruh Indonesia.
Meskipun di setiap daerah sudah diberikan Molin, namun di Provinsi Bangka Belitung Molin kami jadikan sebagai suatu inovasi pelayanan publik dengan nama MOLIN SAHABAT yang merupakan singkatan dari Mobil Perlindungan Satu Hati untuk Semua Kerabat. MOLIN SAHABAT sebagai inovasi mulai dikembangkan pada tanggal 15 Oktober 2018 yang mana Setiap kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bangka Belitung melalui surat nomor 076/452/dp3acskb/2018 tanggal 15 Oktober 2018 tentang Pemanfaatan Molin yang menegaskan agar kabupaten/kota dapat memanfaatkan molin sebagai inovasi pelayanan secara jemput bola.


Pada awalnya Molin dimanfaatkan hanya untuk penjangkauan korban, promosi pencegahan kekerasan dan meningkatkan koordinasi dengan mitra kerja dalam memberikan layanan perlindungan kepada perempuan dan anak. Lebih dari itu, dalam perkembangannya, Molin Sahabat berfungsi menerima curhatan para perempuan dan anak tentang permasalahan yang mereka alami karena Molin sahabat beroperasi pada tempat-tempat ramai dikunjungi oleh masyarakat seperti taman kota pada jam-jam tertentu serta dilengkapi dengan petugas psikologi yang akan menerima pengaduan dan membantu perempuan dan anak dalam menyelesaikan masalahnya.

Berdasarkan data yang diinput pada aplikasi Sistem Informasi On-line Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI), jumlah kasus kekerasan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2018 sebnyak 160 kasus terdiri dari 80 kasus kekerasan pada usia anak dan 80 kasus merupakan kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan usia 18 tahun ke atas. Pada tahun 2019 tercatat sebanyak 172 kasus yang terlaporkan dengan jumlah korban sebanyak 181 orang. Dari jumlah total korban tersebut hampir 61% atau sebanyak 110 orang korban anak, sedangkan 39% atau sebanyak 71 orang korban perempuan berusia 18 tahun keatas. Data tersebut di atas seperti fenomena gunung es karena masih banyak lagi kasus ataupun korban diluar sana yang tidak terlaporkan dikerenakan sulitnya akses untuk melapor, korban tidak mengetahui kemana mereka harus melapor atau karena korban merasa takut atau terancam keselamatan jiwanya serta banyak lagi alasan lainnya.Adapun tujuan yang diinginkan dari inonasi ini adalah untuk mendukung tercapainya indikator kinerja utama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yaitu menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.Berdasarkan data yang diinput pada aplikasi Sistem Informasi On-line Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI), jumlah kasus kekerasan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2018 sebnyak 160 kasus terdiri dari 80 kasus kekerasan pada usia anak dan 80 kasus merupakan kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan usia 18 tahun ke atas. Pada tahun 2019 tercatat sebanyak 172 kasus yang terlaporkan dengan jumlah korban sebanyak 181 orang. Dari jumlah total korban tersebut hampir 61% atau sebanyak 110 orang korban anak, sedangkan 39% atau sebanyak 71 orang korban perempuan berusia 18 tahun ke atas. Data tersebut di atas seperti fenomena gunung es karena masih banyak lagi kasus ataupun korban di luar sana yang tidak terlaporkan dikerenakan sulitnya akses untuk melapor, korban tidak mengetahui kemana mereka harus melapor atau karena korban merasa takut atau terancam keselamatan jiwanya serta banyak lagi alasan lainnya. Adapun tujuan yang diinginkan dari inonasi ini adalah untuk mendukung tercapainya indikator kinerja utama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yaitu menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Molin Sahabat merupakan alat transportasi multi fungsi yang digunakan untuk penjangkauan korban kekerasan, sosialisasi dan koordinasi dengan mitra atau jejaring kerja Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sejak diserah terimakannya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, mobil ini sudah didesain sedemikian rupa dilengkapi bangsal untuk berbaring, spiker, jenset, Laptop, Infokus dan layar.


Kehadiran Molin Sahabat ditengah-tengah masyarakat selain untuk penjangkauan korban, di fungsikan pula untuk mensosialisasikan upaya pencegahan kekerasan seraya membagikan KIE seperti leaflet dan brosur pada saat molin sahabat beroperasi. Jadi pada saat Molin Sahabat beroperasi selain menerima curhatan atau memberikan konseling kepada masyarakat sekaligus melakukan sosialisasi dan membagikan KIE. Keberadaan Molin pada saat seperti inilah yang dirasakan sangat membantu masyarakat yang mungkin kurang memiliki akses untuk melapor kepada petugas di unit layanan.Pada situasi yang darurat seperti kondisi pandemik corona saat ini, Molin Sahabat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dengan menggunakan spiker pengeras suara berkeliling atau menjangkau ke tempat terpencil guna mensosialisasikan upaya pencegahan penularan virus corona serta menjaga diri dan keluarga.

Pada saat Molin diserahkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia memang sudah diberikan panduan kepada daerah untuk pemanfaatan utamanya adalah untuk penjangkauan, sosialisasi dan koordinasi.Akan tetapi di Provinsi Bangka Belitung Molin sengaja kami beri nama menjadi Molin Sahabat adalah dengan harapan ketika masyarakat melihat keberadaan mobil tersebut benar-benar menjadi sahabat bagi perempuan dan anak sehingga masyarakat tidak sungkan untuk melapor tentang permasalahan yang mereka alami.Penggunaan Molin seperti Molin Sahabat ini dilakukan juga di Kota Bandung, perbedaannya adalah kami menambahkan dengan kata “Sahabat” yang memiliki makna satu hati untuk semua kerabat. Karena Molin ini adalah Molin Sahabat maka orang akan merasa senang dan bahagia ketika bertemu molin Sahabat. Para perempuan dan anak-anak merasa ceria karena tim kami melayani mereka dengan hati dan menyampaikan edukasi dengan cara yang menyenangkan.

Selain Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, beberapa kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, Belitung dan Pangkalpinang sudah memiliki molin. Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan telah mengirimkan surat ke kabupaten dan Kota yang sudah memiliki molin agar dapat melakukan hal yang sama dengan provinsi yakni memanfaatkan molin sesuai dengan fungsinya dan menjadi sarana jemput bola pengaduan bagi perempuan dan anak di Kabupaten dan Kota masing-masing, sehingga masing-masing daerah sudah menentukan tempat dan jadwal tertentu serta dapat dipublikasikan secara luas.

Pelaksanaan Molin Sabahat sebagaimana digunakan untuk penjangkauan, sosialisasi dan jemput bola pengaduan perempuan dan anak tentu memiliki manfaat yang besar dari beberapa aspek seperti aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Secara sosial keberadaan molin sahabat akan memberikan dampak sosial yang baik kepada masyarakat tentunya karena akan meningkatkan rasa percaya diri masyarakat untuk berani melaporkan jika mendengar atau melihat kekerasan atau terdapat hak-hak anak yang belum terpenuhi di lingkungan sekitar mereka.Selama ini banyak kasus yang tidak terlaporkan disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat kemana mereka harus melapor, karena rasa malu dan takut akan membuka aib keluarga atau memang persepsi keliru masyarakat sendiri tentang kekerasan yang terjadi terhadap mereka khususnya untuk kekerasan dalam rumah tangga. Melalui keberadaan Molin Sahabat inilah sebagai upaya deteksi dini terhadap terjadinya kekerasan di lingkungan keluarga.


Dari aspek ekonomi, sosialisasi yang dilakukan melalui molin sahabat akan lebih efisien karena sosialisasi dapat dilakukan dalam jumlah peserta yang besar, misalnya melalui pemutaran film edukasi yang dilakukan di outdoor. Hal ini jauh lebih ekonomis dari pada dilakukan secara indoor.Dari aspek lingkungan, keberadaan Molin Sahabat dapat meningkatkan kepekaan atau kepedulian sosial masyarakat terhadap lingkungan sekitar mereka. Masyarakat dapat melaporkan melalui Molin Sahabat bilamana mendengar dan melihat terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.Masyarakat akan merasa terbantu dengan adanya sistem jemput bola pengaduan melalui Molin ini, karena masyarakat tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor/unit pelayanan. Selain itu juga pelayanan dapat diberikan secara cepat terlebih untuk masalah-masalah ringan yang hanya membutuhkan konseling saja.

Dampak bagi pengelola molin sahabat sendiri adalah merasa lebih releks dan santai karena dapat bekerja di luar ruangan bahkan dapat menikmati suasana dengan baik, terkhusus untuk petugas psikolog akan lebih nyaman dalam memberikan terapi dan asesment dalam suasana alam terbuka.Dampak lain dari keberadaan Molin Sahabat adalah untuk menekan terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.