Kampung KB CIKAR Sebagai Wadah Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Keluarga dan Masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Dewasa ini Bangka Belitung masih harus menghadapi berbagai permasalahan serta isu strategis terkait
sosial budaya seperti angka perkawinan anak yang tinggi, kasus stunting serta kekerasan pada perempuan
dan anak di beberapa wilayah yang cukup tinggi.
Kampung KB yang merupakan program pemerintah pusat diharapkan dapat menjadi suatu program yang langsung bersentuhan dan memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya di desa/kelurahan yang kurang maju dalam mengatasi berbagai permasalahan sehingga pada akhirnya akan menjadikan desa/kelurahan tersebut sejajar dengan yang maju. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung meresponi program ini dengan membuat kebijakan untuk menjadikan 90?sa/kelurahan potensi kampung kb sebagai kampung KB.
Realitanya, pelaksanaan kampung KB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak berjalan semulus yang diharapkan. Program yang berjalan di Kampung KB kebanyakan hanya program Banggakencana. Keterlibatan lintas sektor dalam penggarapan kampung KB masih sangat minim. Padahal untuk membangun dan memajukan suatu desa/kelurahan membutuhkan dukungan, komitmen dan peran serta dari berbagai stakeholder terkait. Disamping itu, Pengelolaan kampung KB belum dilaksanakan secara maksimal, intervensi yang dilakukan belum berdasarkan identifikasi permasalahan yang ada di kampung KB. Upaya untuk mengatasi permasalahan perkawinan anak, stunting dan kekerasan pada perempuan dan anak belum menjadi fokus di kampung KB.

Permasalahan tersebut akhirnya melahirkan suatu gagasan untuk mengembangkan kampung KB menjadi Kampung KB CIKAR yang menjadi inovasi Pemprov Kepulauan Bangka Belitung. Kampung KB CIKAR menjadi sentral seluruh program pembangunan baik bidang Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, Pencatatan Sipil,Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta program lintas sektor lainnya dengan harapan akhirnya akan menjadi Kampung KB yang Cerdas, Inovatif, Kreatif, Aktif dan Responsif (CIKAR) Dalam Kampung KB CIKAR secara khusus dimasukkan program/kegiatan yang mencakup permasalahan perkawinan anak, stunting, serta upaya Pemberdayaan perempuan melalui industri rumahan dan perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat dengan harapan akan terjadi penurunan angka perkawinan anak, kasus stunting dan kekerasan pada perempuan dan anak.

Tujuan inisiatif  dari Inovasi ini adalah :

1. Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mengatasi permasalahan sosial di provinsi Kepulauan Bangka
Belitung seperti angka perkawinan anak yang tinggi, kasus stunting serta kekerasan pada perempuan dan
anak di beberapa wilayah yang cukup tinggi.
2. Untuk mensinergikan seluruh program pembangunan baik dari pusat maupun daerah dalam satu wadah
program dengan tujuan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
3. Optimalisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga
Berencana (Banggakencana), Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), Program industri
Rumahan (IR)serta Adminstrasi Kependudukan.


Kampung KB CIKAR diharapkan dapat menjadi suatu wahana pemberdayaan masyarakat khususnya di desa/kelurahan yang kurang maju agar terarah pada upaya perubahan sikap, perilaku dan cara berpikir masyarakat yang lebih baik dalam upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat dan pada akhirnya akan menjadikan desa/kelurahan tersebut sejajar dengan desa/kelurahan yang maju.
Kampung KB CIKAR merupakan modifikasi dari program Kampung KB yang telah berjalan sejak tahun 2016.
Modifikasi ini dilakukan dalam upaya memfokuskan agenda penurunan angka perkawinan anak serta upaya Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak. Selain itu modifikasi ini dilakukan dalam rangka optimalisasi program yang telah ada karena dengan bersinergi maka percepatan pembangunan lebih mudah untuk dilaksanakan.

Kampung KB CIKAR telah diterapkan di 7 Kabupaten Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hingga
Akhir Tahun 2019 masing masing Kabupaten/Kota sudah memiliki 2 Kampung KB CIKAR. Adapun tahapan
atau proses pelaksanaannya sebagai berikut :
1. Persiapan
Penetapan Kampung KB CIKAR
Pengumpulan data
Membentuk POKTAN (yang belum lengkap), PATBM, kelompok IR (Industri Rumahan)di Kampung KB CIKAR
Sosialisasi dan advokasi kampung KB Cikar kepada stakeholder terkait.
2. Pelaksanaan
Pembinaan kepada anggota POKJA Kampung KB , Pengelola PATBM, Kelompok Industri Rumahan
termasuk kepada OPD Kabupaten/Kota
identifikasi masalah
Intervensi Kampung KB melibatkan stakeholder terkait
3. Monitoring/Evaluasi
Evaluasi input, proses, output dan outcome
Pemberian Reward
SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) : POKJA KAMPUNG KB, PKB/PLKB, KADER, AKTIVIS PATBM
ANGGARAN : APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, APBN, ADD, CSR, Kemandirian Masyarakat
strategi inovator :
1. Advokasi kepada Gubernur agar mendeklarasikan dukungan dan komitmen pelaksanaan kampung KB CIKAR.
2. Advokasi dan KIE Program Kampung KB CIKAR secara formal maupun nonformal kepada seluruh stakeholder terkait.
3. Memperkuat regulasi dan kebijakan pendukung.
4. Melakukan Pembinaan Kampung KB CIKAR.
Ketersediaan sumber daya :
penganggaran program kampung KB CIKAR yang terus bertambah setiap tahunnya
dukungan dari swasta dan kemandirian masyarakat
SDM bertambah melalui perekrutan tenaga honor PLKB

Pembelajaran yang diperoleh dalam melaksanakan inovasi Kampung KB CIKAR :
1. Pemberdayaan masyarakat menjadi kekuatan dalam pelaksanaan kampung KB CIKAR dan diupayakan menuju kemandirian
2. Dukungan dan Komitmen Pemimpin Wilayah menjadi kunci percepatan program Kampung KB CIKAR.
3. Keterlibatan Lintas Sektor sangat mendukung keberhasilan program Kampung KB Cikar oleh karena
itu advokasi dan sosialisasi tentang Kampung KB cikar harus terus menerus dilakukan hingga menimbulkan kepedulian dan dukungan dalam pelaksanaan kampung KB cikar.
4. Manajemen dalam pengelolaan kampung KB merupakan hal yang penting yang harus dipahami oleh
pengelola kampung KB CIKAR.