PLAT BN (Program Layanan Terpadu Bebas Nyeri)

PLAT BN (Program Layanan Terpadu Bebas Nyeri) RSUD PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Rasa nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial mengalami kerusakan jaringan (The International Association for the study of Pain (IASP), 1979 ). Deklarasi Montreal di Kanada tahun 2010 menyerukan bahwa kemerdekaan dari rasa nyeri adalah hak asasi fundamental manusia. WHO sebagai lembaga kesehatan dunia sekarang memasukan kualitas rasa nyeri sebagai tanda vital utama. Jika dulu tanda vital pasien hanya meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan laju pernafasan.

Saat ini ditambahkan penilaian derajat nyeri sebagai tanda vital kelima, fifth vital sign. Penilaian nyeri diperiksa secara regular, dicatat, dan menjadi salah satu parameter penting dalam pelayanan kepada pasien.Program Layanan Terpadu Bebas Nyeri (PLAT BN) adalah program inovasi pertama di Indonesia untukpelayanan nyeri secara terintegrasi. Aspek kebaruan dari program terpadu ini meliputi empat aspek yaitu : 1.Terpadu Sumber Daya Manusia (SDM), 2. Terpadu jenis layanan, 3. Terpadu rujukan berjenjang dan 4. Terpadu aspek dimensi kesehatan. Penamaan PLAT BN terinspirasi dari keseharian di kehidupan masyarakat berupa kode plat nomor kendaraan bermotor yang mudah diingat dan sering dilihat. Padanan kalimat kepanjangannya padat sesuai dengan tujuan. Sehingga saat masyarakat melihat PLAT BN di kendaraan mereka mengingat salah satu visi kesehatan untuk bebas nyeri. RSUD Dr (H.C.) Ir.Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai satu-satunya rumah sakit kelas B di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) rujukan berjenjang hanya dapat menerima pasien rujukan dari rumah sakit kelas C, kecuali kasus kegawatdaruratan atau pasien pembiayaan umum.

Oleh karena itu, harus membuat inovasi yang memiliki nilai lebih dibandingkan rumah sakit lainnya. Sebelum adanya inovasi PLAT BN penanganan pasien nyeri akut dan kronik, baik akibat kanker maupun non kanker berjalan masing-masing dan tidak sinergis. Setelah dimulainya program terpadu ini layanan lebih optimal menjangkau semakin banyak pasien didukung pendampingan melalui program sister hospital.Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2018 mempertimbangkan Sustainable Development Goals (SDGs), memasukan nyeri sendi dan kanker sebagai indikator yang dinilai pada bagian penyakit tidak menular. Riskesdas 2018 mempresentasikan besarnya prevalensi nyeri sendi pada populasi penduduk di Indonesia yaitu sebesar 7,3 persen dan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 4,51 persen. Penderita kanker 1,79 permil di Indonesia dan 1.49 permil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurut statistik WHO, 66 persen populasi kanker memiliki keluhan nyeri.
Permasalahan besarnya penderita nyeri melahirkan inovasi PLAT BN yang merupakan sinergi dari keseluruhan profesional pemberi asuhan (PPA) meliputi dokter spesialis multidisiplin, dokter umum, perawat dan seluruh tenaga kesehatan lainnya. Inovasi ini bertujuan untuk :
1. Membangun sistem terpadu yang terfokus dalam penanganan nyeri, karena selama ini penanganan pasien dengan keluhan nyeri berjalan terpisah;
2. Menjangkau semakin luas masyarakat yang menderita nyeri khususnya masyarakat Bangka Belitung dan umumnya masyarakat Indonesia serta dunia;
3. Memberikan layanan kesehatan yang optimal dengan melibatkan profesi multidisiplin yang terstandar nasional juga internasional;
4. Sejalan dengan visi untuk menjadikan RSUD Dr (H.C.) Ir.Soekarno sebagai pusat rujukan terbaik dan terjangkau oleh masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mengedepankan pelayanan berbasis kolaborasi interprofesi secara holistik;
5. Merealisasikan misi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan produk pelayanan unggulan Riskesdas.

PLAT BN adalah inovasi di bidang kesehatan yang diinisiasi oleh direktur dan manajemen RSUD Dr (H.C.) Ir.Soekarno sebagai salah satu layanan kesehatan unggulan untuk membantu masyarakat dengan keluhan rasa nyeri secara terpadu.

Seluruh pendekatan untuk penanganan nyeri berupa : 1. tatalaksana non farmakologis; 2. Farmakologis untuk nyeri yang bersifat akut (kurang dari tiga bulan), maupun untuk nyeri kronik (lebih dari tiga bulan); 3. Intervensi nyeri di titik sumber nyeri (pain generator) dengan panduan alat canggih berupa ultrasound (USG) maupun flouroskopi (C-Arm); dan 4. Tindakan operasi pada organ atau jaringan penyebab nyeri dapat dilakukan secara holistik di layanan kesehatan ini.Inovasi ini memiliki dampak positif bagi pasien dengan keluhan nyeri terutama pada orang tua, perempuan yang bekerja baik di rumah maupun di luar rumah, hingga pasien dengan penyakit keganasan khususnya di  Bangka Belitung dan umumnya di Indonesia.

Ada beberapa pasien yang datang dari luar Pulau Bangka Belitung yang berobat terpadu karena keluhan nyerinya. Sebelum adanya program PLAT BN, di tahun 2016-2017 tidak ada satupun tindakan untuk intervensi nyeri di ruang operasi. Data tindakan di ruang operasi pada tahun 2018 terjadi peningkatan signifikan dengan keseluruhan tindakan intervensi nyeri sebanyak 167 atau sekitar 20 persen dari total 833, di tahun 2019 sebanyak 203 pasien atau 15,1 persen dari total 1340 tindakan. Data rumah sakit juga menunjukan di tahun 2018 terdapat tiga diagnosis nyeri yang masuk sepuluh kasus terbanyak yaitu : nyeri punggung bawah (low back pain (LBP)) di peringkat ke-2, nyeri sendi (gonarthrosis) peringkat ke-4 dan nyeri ulu hati (gastritis) peringkat ke-8.  Pada tahun 2019 jumlah kunjungan rawat jalan kasus nyeri bertambah, tercatat di sepuluh penyakit terbesar ada empat diagnosis nyeri yang masuk yaitu : nyeri punggung bawah (low back pain (LBP)) peringkat ke-1, nyeri sendi (gonarthrosis) peringkat ke-2, nyeri menjalar (radiculopathy) peringkat ke-7, dan nyeri ulu hati (gastritis) peringkat ke-9.Layanan terpadu dengan konsep one stop shopping seperti ini belum ada di wilayah provinsi kepulauanBangka Belitung dan juga di Indonesia.

Pasien dengan nyeri kronik yang telah menjalani pengobatan ke banyak tenaga kesehatan secara terpisah (perilaku doctor shopping) membahayakan dan dapat menimbulkan komplikasi karena data tidak terintegrasi dan kemungkinan obat yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, RSUD DR (H.C.) Ir.Soekarno menginisiasi inovasi untuk memberikan layanan terpadu bagi penderita nyeri akut maupun kronik, baik dengan penyebab kanker maupun non-kanker. Sangat tidak nyaman hidup dalam derita rasa nyeri, pasien mengalami penurunan kualitas hidup, menyebabkan depresi, menurunkan produktifitas kerja, hingga mengganggu saat beribadah.

PLAT BN adalah program inovasi pertama di Indonesia untuk pelayanan nyeri terintegrasi. Aspek kebaruan program terpadu ini meliputi : 1. Terpadu Sumber Daya Manusia (SDM), 2. Terpadu jenis layanan, 3. Terpadu rujukan berjenjang dan 4. Terpadu aspek dimensi kesehatan.Aspek SDM meliputi paramedis, dokter umum, dokter spesialis multidisiplin, guru besar hingga konsultan luar negeri. Aspek jenis layanan meliputi non farmakologi, farmakologi, intervensi dan operasi. Aspek rujukan berjenjang meliputi puskesmas, rumah sakit kelas C, rumah sakit kelas B, hingga rumah sakit rujukan kelas Amelalui program pendampingan (sister hospital). Aspek dimensi kesehatan yang dimaksud meliputi preventif, promotif, kuratif, edukatif, rehabilitatif, hingga paliatif.